Bugis, Makassar dan Banjar: Suku-suku yang Gemar Berhaji

By on 05/10/2017

Jamaah haji asal Bugis Makassar.

KABARWAJO.com – Menunaikan ibadah haji, memang sudah menjadi rukun Islam yang kelima. Naik haji, berziarah ke tanah suci dan mengunjungi Baitullah, wajib hukumnya bagi yang mampu. Namun tidak jarang, motif lain menunaikan ibadah haji tak melulu panggilan religius semata.

Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, menunaikan ibadah haji bisa menjadi sebuah simbol kehormatan. Selain itu, beberapa suku di Indonesia juga dikenal memiliki kegemaran atau motivasi untuk menunaikan ibadah haji yang lebih tinggi dibanding suku lainnya. Bahkan, tak hanya sekali, mereka kadang sampai dua atau tiga kali berhaji.

Berbeda dari negara-negara lain, Muslim yang telah menunaikan ibadah haji di Indonesia akan mendapatkan gelar tambahan di depan nama aslinya. Haji bagi laki-laki, dan Hajjah bagi perempuan.

Mengutip NU Online, gelar ‘haji’ di Indonesia sebenarnya tergolong unik. Arkeolog Islam Nusantara, Agus Sunyoto, menyebutkan penyematan gelar ‘haji’ dan ‘hajjah’ tersebut mulai muncul sejak tahun 1916.

“Kenapa dulu tidak ada Haji Diponegoro, Kiai Haji Mojo, padahal mereka sudah haji? Dulu kiai-kiai enggak ada gelar haji, wong itu ibadah kok. Sejarahnya (gelar “haji”) dimulai dari perlawanan umat Islam terhadap kolonial. Setiap ada pemberontakan selalu dipelopori guru thariqah, haji, ulama dari Pesantren, sudah, tiga itu yang jadi ‘biang kerok’ pemberontakan kompeni, sampai membuat kompeni kewalahan,” ungkap Agus Sunyoto di Pesantren Ats-tsaqafah, Ciganjur, Jakarta. Jumat (24/9), seperti dikutip dari NU online.

Penulis buku “Atlas Wali Songo” ini menambahkan, para kolonialis sampai kebingungan karena setiap ada warga pribumi pulang dari tanah suci Mekkah selalu terjadi pemberontakan.

“Tidak ada pemberontakan yang tidak melibatkan haji, terutama kiai haji dari pesantren-pesantren itu,” tegasnya

Untuk memudahkan pengawasan, lanjut Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) itu, pada tahun 1916 penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “haji”.

“Untuk apa? Supaya gampang mengawasi, intelijen, sejak 1916 itulah setiap orang Indonesia yang pulang dari luar negeri diberi gelar haji,” ujar Agus.

BACA JUGA :  Pemberangkatan Jamaah Calon Haji Embarkasi Makassar Dimulai Akhir Juli

Menurut Dosen STAINU Jakarta itu, adapun sebutan atau panggilan “Ya Haj” yang ada di Timur Tengah hanya bersifat verbal atau ucapan penghormatan saja, karena pemerintahan di sana tidak mengeluarkan sertifikat haji.

Sementara itu, dikutip dari Tirto.ID, data dari Kementerian Agama per 15 Juni 2016, provinsi dengan rata-rata daftar tunggu terlama adalah Sulawesi Selatan, yakni 23,9 tahun. Terlama kedua adalah Kalimantan Selatan, 23,1 tahun.

Disusul provinsi Serambi Mekkah, Nangroe Aceh Darussalam, yang ketiga, 20,7 tahun. Keempat adalah Kalimantan Timur, 19,25 tahun. Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat masa tunggunya sama-sama 19,15 tahun.

Dari enam besar daerah tersebut terdapat orang-orang Aceh, Banjar, Bugis, Makassar dan Madura yang dikenal begitu kuat akar kebudayaan Islamnya. Suku-suku tersebut dikenal juga suku yang cukup menonjol dalam perdagangan.

Suku-suku pedagang itu, seringkali cukup baik perekonomiannya sehingga mereka berusaha sebisa mungkin menjalankan rukun Islam ke-5 tersebut.

Di masa lalu, Aceh termasuk daerah yang selalu dilewati ketika hendak pergi ke Tanah Suci. Hingga Aceh dianggap sebagai Serambi Mekkah. Orang-orang Aceh, yang kental kultur Islamnya, tentu punya niat besar seperti orang Islam lain untuk pergi berhaji.

Dari Sulawesi Selatan, terdapat orang-orang Bugis dan Makassar. Di antara kabupaten-kabupaten di sana, Wajo disusul Bone dan lainnya adalah yang terbesar peminat hajinya. Orang-orang Bugis, selain dikenal sebagai pelaut juga dikenal sebagai saudagar juga.

Motivasi tinggi untuk berhaji tak hanya bagi orang-orang Bugis yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan, dan jazirah Pulau Sulawesi lainnya. Orang Bugis perantau pun, tulis Tirto.ID, seperti di Riau, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan lainnya juga mempunyai motivasi tinggi untuk menunaikan perjalanan ke Baitullah tersebut.

Di daerah pesisir Kalimantan Timur, daerah yang saat ini dianggap kaya karena tambang, memang banyak berdomisili orang-orang Bugis sejak abad ke XVII. Untuk di provinsi Kalimantan Timur, banyaknya jamaah haji itu selain karena orang-orang Bugis, juga karena orang-orang Banjar dari Kalimantan Selatan, yang juga banyak merantau ke Kalimantan Timur sejak abad XVII seperti orang-orang Bugis juga.

BACA JUGA :  Waspada, Ada 70 Travel Haji dan Umrah Ilegal di Sulsel

Menurut Mukhlis dan Kathryn Robinson, Agama dan Realitas Sosial (1985), bagi orang Bugis atau Makassar, naik haji punya arti tersendiri. Meski seringkali tak melulu sekadar kewajiban agama, tetapi juga terkait dengan status sosial juga. Tak menutup kemungkinan, orang-orang dari suku lain di Indonesia pun memiliki kepentingan yang sama.

Selain Bugis-Makassar, suku Banjar juga dikenal sebagai suku yang gemar berhaji. Orang Banjar umumnya menyebar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Seperti orang Bugis-Makassar, suku Banjar juga dikenal sebagai pedagang ulung. Tak hanya di sekitar Selat Makassar, mereka juga berdagang hingga Sumatera.

Orang Banjar menempati urutan ke empat tertinggi di Indonesia dalam hal motivasi menunaikan ibadah haji. Orang-orang Banjar yang pulang berhaji, akan dipanggil Pa Haji jika laki-laki berumur, atau Ma Haji untuk perempuan yang sudah berumur. Meski sudah banyak orang Banjar yang sudah bergelar Haji, prestise haji di Banjar tidak berubah. Mereka masih dihormati.

Di Pulau Jawa, orang-orang Madura pun dikenal memiliki motivasi tinggi menunaikan ibadah haji. Ini diungkapkan Budawayan asal Jawa Timur, Emha Ainun Nadjib, dalam Folklore Madura (2005).

“Percayalah, orang Madura tergolong orang yang paling rajin naik haji. Boleh Tanding. Rasanya kurang mantap sebagai manusia, rasanya sorga belum ada di saku kalau naik haji hanya sekali seumur hidup,” tulis Emha.

Seperti halnya orang Aceh dengan sisi religiusnya yang tinggi, dan orang-orang Bugis-Makassar dan Banjar yang dikenal sebagai pedagang, orang-orang Madura pun merupakan pedagang-pedagang gigih. Jika sudah kaya, seperti orang Bugis atau Banjar, mereka akan naik haji, kalau perlu berkali-kali juga.

(adp/berbagai sumber) 

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)
Read previous post:
Tiba di Makassar, Satu Jamaah Haji Wajo Asal Majauleng Meninggal di Mina

93 Bakal Calon Kepala Desa Ikuti Tes Kejiwaan

Ini Sejarah Penetapan 5 Oktober sebagai Hari Jadi TNI

FOTO: Peringatan HUT ke-72 TNI, Kodim 1406/Wajo Ziarah ke TMP Empagae

Close