Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Bugis Street dan Distrik Sengkang, Jejak Perantau Bugis di Singapura

Bugis Street dan Distrik Sengkang, Jejak Perantau Bugis di Singapura

patung-tiga-etnis
Diorama tiga etnis pendiri Singapura, Bugis-Melayu, China, dan Inggris.

KABARWAJO.com – Menyebut Singapura (dalam ejaan Bahasa Inggris tertulis Singapore), tentu yang terbayang adalah keberadaan patung Merlion dan sebuah negara di wilayah Asia Tenggara dengan kemajuan industri yang pesat.

Singapura, yang merupakan sebuah pulau kecil di Semenanjung Malaya ini bahkan berkembang menjadi salah satu tujuan destinasi favorit di dunia saat ini.

Namun, jauh sebelum Singapura berkembang pesat seperti saat ini, perantau Bugis telah menanamkan pengaruhnya di negara tersebut. Dalam bukunya berjudul “Manusia Bugis”, Christian Pelras bahkan menjelaskan kehadiran pedagang Bugis-Makassar di masa-masa awal berdirinya Singapura.

Para pedagang Bugis, tulis Pelras, saat itu sudah membangun jaringan perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan nusantara. Salah satu pelabuhan penting pedagang Bugis saat itu adalah Kepulauan Riau, di mana mereka bisa melakukan perdagangan secara bebas tanpa campur tangan Belanda yang saat itu menguasai wilayah Indonesia.

Pedagang-pedagang Bugis ini, tulis Pelras mengutip tulisan Philip Curtin, membuka Riau bagi semua pedagang lainnya, termasuk pedagang asal China, Inggris, Thailand, dan Jawa. Riau pun saat itu kemudian berkembang menjadi pelabuhan penting dalam jalur perdagangan yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa serta Samudera Hindia.

Namun, lanjut Pelras dalam catatannya, Belanda kemudian menduduki Riau pada tahun 1784. Mereka kemudian membuat berbagai peraturan untuk menyingkirkan dan menghambat bisnis pedagang Bugis di Riau saat itu. Sempat jatuh ke tangan Inggris, Belanda kembali berhasil menguasai pelabuhan Riau pada tahun 1819.

BACA JUGA :  Nama Tancung Diambil dari Penyebutan "Daun Cuncung"

Akibatnya, para pedagang Bugis memilih menyingkir dan membuka pusat perdagangan di Singapura yang pernah di bawah kerajaan Sriwijaya yang lebih dikenal dengan nama Temasek atau “Kota Laut”.

Seiring dengan eksodus pedagang Bugis ke Temasek (Singapura), Wakil Gubernur Inggris di Bengkulu, Sir Thomas Stamford Raffles, pun mulai melirik Singapura menjadi pusat perdagangan pada tahun 1818. Raffles menilai, Singapura sangat strategis sebagai sebuah “rumah singgah” untuk memperbaiki, mengisi bahan makanan, dan melindungi armada kerajaan mereka yang semakin besar, serta untuk menahan kemajuan bangsa Belanda di wilayah ini.

Raffles kemudian menerapkan kebijakan perdagangan bebas di Singapura dan berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah. Pedagang Bugis pun tak mau ketinggalan. Tahun 1824, sebanyak 90 perahu orang Bugis asal Wajo datang ke Singapura. Setahun berselang, 120 perahu asal Bugis menyeberang ke Singapura.

Versi lain jejak perantau Bugis di Singapura adalah imbas Perang Makassar dan perjanjian Bungaya pada rentang 1667-1669. Menurut Andi Rahmat Munawar dalam tulisannya di diskusilepas.com, perjanjian Bungaya ini menyebabkan adanya migrasi orang Bugis-Makassar ke seluruh Nusantara. Pangeran Gowa dan rombongan memilih ke Thailand, sementara komandan Wajo memilih ke Samarinda dan Tumasek (Singapura).

BACA JUGA :  Ini Sejarah Penetapan 5 Oktober sebagai Hari Jadi TNI

Bahkan literasi lain mencatat, selain berdagang perantau asal Bugis ini juga menjadi laskar bayaran Inggris untuk menjaga dominasi dengan etnis lain. Salah satunya, pembunuhan massal yang dilakukan orang Bugis di kawasan Kallang.

Bugis Street

Kawasan Bugis Street
Kawasan Bugis Street

Salah satu jejak perantau Bugis di Singapura yang masih ada saat ini adalah kawasan Kallang, yang lebih dikenal dengan nama “Bugis Street”. Kawasan ini berkembang menjadi pusat perbelanjaan terkenal di Singapura, seperti Bugis Village, Bugis Junction, dan Bugis Square.

Di kawasan Bugis Street ini juga terdapat masjid terbesar di Singapura, yakni “Sultan Mosque” (Masjid Sultan). Konon, pembangunan masjid ini dirintis para pengusaha asal Bugis dengan cara mengumpulkan emas dan uang. Selain itu, mereka juga menjual tanahnya di Kawasan Geylang yang dulunya sebagian besar merupakan milik para pedagang Bugis di Singapura.

Distrik Sengkang

Sengkang Sculpture Park di Singapura
Sengkang Sculpture Park di Singapura

Selain “Bugis Street”, jejak perantau Bugis di Singapura juga diabadikan melalui keberadaan “Distrik Sengkang” yang kabarnya diambil dari nama Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo. Distrik Sengkang di Singapura menjadi bagian dari modernisasi Singapura.

Di Distrik Sengkang ini juga berdiri Markas Besar Kepolisian Singapura, pusat pemerintahan, sekolah, hingga kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan.

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)