Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Jejak-jejak Lamaddukelleng: Filosofi “Tellu Cappa” dan Raja di Empat Kerajaan Berbeda (1)

Jejak-jejak Lamaddukelleng: Filosofi “Tellu Cappa” dan Raja di Empat Kerajaan Berbeda (1)

Lukisan Lamaddukkelleng
Lukisan Lamaddukkelleng

KABARWAJO.com – Lamaddukkelleng merupakan salah seorang Arung Matoa Wajo yang dikenal karena keberaniannya, hidup di antara tahun 1699-1765.

Ia diangkat menjadi Arung Matoa Wajo ke-34 di tengah medan pertempuran di Paria pada 6 November 1736. Lamaddukkelleng menjadi Arung Matoa Wajo pada rentang tahun 1736-1754, setelah sebelumnya sempat merantau dan menjadi Sultan Pasir di wilayah Kalimantan Timur saat ini pada 1726 – 1736.

Keberanian Lamaddukkelleng memang sudah terlihat sejak kecil. Ia merupakan putera dari Arung (Raja) Peneki La Mataesso To Ma’dettia dengan ibunya We’ Tenriangka yang menjabat Arung Singkang sekaligus saudara Arung Matoa Wajo La Salewangeng To Tenrirua yang menjabat pada 1713-1736. Sehingga, La Maddukelleng saat itu juga dinobatkan sebagai Arung Peneki.

Suatu ketika, Arung Matoa Wajo La Salewangeng diundang Raja Bone saat itu, La Patau Matanna Tikka, untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya, I Wale, di Cenrana yang masih menjadi wilayah kekuasaan Bone.

Rombongan La Salewangeng kemudian berangkat ke Cenrana dan mengajak keponakannya Lamaddukkelleng ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja.

BACA JUGA :  Tingkatkan Pelayanan, Pengumuman di Bandara Sultan Hasanuddin Kini Pakai Bahasa Bugis-Makassar

Lazimnya pesta raja-raja Bugis saat itu, diadakanlah lomba perburuan rusa (maddengngeng) dan sabung ayam (mappabitte). Pada ajang mappabitte, ayam putera Raja Bone mati dan dikalahkan oleh ayam Arung Matoa Wajo yang membuat rakyat Bone yang menyaksikan sabung ayam tersebut marah dan memicu keributan.

Terjadi perkelahian dan aksi saling tikam di antara dua belah pihak. Menurut Lontara’ Sukkuna Wajo (LSW), Lamaddukkelleng saat ikut terlibat dan menikam beberapa orang Bone yang mengakibatkan banyaknya korban di pihak Bone daripada Wajo. Namun demikian, rombongan La Salewangeng memilih mundur ke Wajo melalui Sungai Walennae mengingat mereka berada di wilayah kekuasaan Bone.

Setibanya mereka di Tosora, ibukota Kerajaan Wajo saat itu, datanglah utusan Raja Bone yang meminta Lamaddukkelleng diserahkan dan bertanggungjawab atas perbuatannya. Namun, La Salewangeng tak bergeming dan beralasan Lamaddukkelleng menghilang dan tak lagi kembali ke Wajo sejak keributan di Cenrana tersebut.

Setelah utusan Raja Bone pulang, datanglah Lamaddukkelleng menghadap serta meminta izin ke Arung Matoa Wajo untuk sementara meninggalkan Wajo dan berlayar ke daerah lain. Salah seorang anggota Dewan Pemerintah Kerajaan Wajo saat itu, La Tenri Wija Daeng Situju, mengingatkan agar dalam perantauan Lamaddukkelleng tetap senantiasa mengingat Wajo.

BACA JUGA :  Saat Sisi Lain "Calalai' Dikupas di Melbourne Australia

Sembari meyakinkan tekad Lamaddukkelleng, La Salewangeng kemudian bertanya tentang bekal yang akan dibawanya merantau. Dengan tegas, Lamaddukkelleng menjawab, bahwa tiga hal yang menjadi bekalnya yakni cappa lila (ujung lidah yang berarti kemampuan berdiplomasi), cappa kawali (ujung badik yang berarti keberanian berperang), dan cappa laso (ujung kemaluan yang berarti diplomasi melalui pernikahan).

Setelah mendapatkan restu, Lamaddukkelleng bersama pengikutnya kemudian meninggalkan Peneki dengan menggunakan perahu layar menuju Johor, Malaysia. Lontara’ Sukkuna Wajo mencatat bahwa dalam perantauannya Lamaddukkelleng bertemu dengan kerabatnya Daeng Matekko yang menjadi saudagar kaya di Johor.

Ini membuktikan bahwa sudah sejak lama orang-orang Wajo berlayar jauh meninggalkan kampung halamannya dan merambah jauh ke negeri orang. Lamaddukkelleng diperkirakan meninggalkan Wajo dan memilih merantau pada tahun 1714 di masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patau Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe yang juga sebagai Datu Soppeng atau setahun setelah keributan berdarah di Cenrana.  (bersambung)

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)