Home > #AyoKeWajo > JEJAK SEJARAH: Saat Andi Ninnong Menolak Berdamai dengan Belanda

JEJAK SEJARAH: Saat Andi Ninnong Menolak Berdamai dengan Belanda

Pemimpin Penegak Republik Indonesia Wadjo, Andi Ninnong.
Ranreng Tua dan Pemimpin Penegak Republik Indonesia Wadjo (PRIW), Andi Ninnong.

KABARWAJO.com – Meski kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta selaku Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, akan tetapi berita kemerdekaan tersebut belum tersiar secara luas ke sejumlah daerah di pelosok negeri.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang dibentuk pada 3 April 1944 untuk mempengaruhi beberapa daerah menolak proklamasi kemerdekaan RI dan bergabung dengan NICA.

Salah satunya adalah Kerajaan Wajo yang saat itu dipimpin Ranreng Tuwa, Andi Ninnong. Saat beberapa anggota Penegak Republik Indonesia Wadjo (PRIW) ditangkap dan dieksekusi pasukan Westerling, Andi Ninnong tetap menolak menyerahkan kedaulatan Wajo ke tangan NICA.

Dikutip dari titahtimur.com, berikut perbincangan Andi Ninnong dengan Controuller Wadjo, Wolhoof, yang ditugaskan untuk membujuk Andi Ninnong menyerah.

Wolhoff: Saya dengar kabar bahwa nyonya mempunyai pendirian, pendirian apakah itu?

Andi Ninnong : Pendirian saya menuntut kemerdekaan Indonesia 100%
Wolhoff : Saya juga dengar kabar bahwa menantunya (Andi Sumange Rukka Karaeng Mangeppe) pernah dipenjarakan, apakah sudah bebas ? Dan di mana ia sekarang ?

Andi Ninnong : Sudah bebas dan kini berada di Makassar dengan A. Macca yang sama-sama dipenjarakan.
Wolhoff : Apakah nyonya tidak sakit hati karena menantunya dipenjarakan. Karena tiap orang merasa tidak bersalah lantas dipenjarakan tentu ia sakit hati.

BACA JUGA :  Sekelumit Cerita tentang Komunitas Tolotang

Andi Ninnong  : Oh, sama sekali tidak. Karena sebelum kami melompat ke sana (memperjuangkan Indonesia Merdeka) kami telah mengetahui bahwa kami mengalami hal serupa itu, dan mungkin jiwa tantangannya.
Wolhoff : Di mana Nyonya tinggal di Makassar? Dan berapa orang di rumah?

Andi Ninnong : Sementara tinggal di rumah sewanya sepupu sekaliku (ayah dari HA Unru, kakek Andi Burhanuddin Unru, Bupati Wajo saat ini) dan tinggal bersama-sama 48 jiwa.
Wolhoff : Siapa yang kasi makan semua orang itu ?

Andi Ninnong   : Saya yang kasih makan semuanya.
Wolhoff : Apakah nyonya cukup mampu memberi makan orang begitu banyak ?
Andi Ninnong : Cukup atau tidak cukup, diusahakan mencukupkan.
Wolhoff : Kalau nyonya perlu apa-apa saya bersedia menolong, umpama pakaian, dan lain-lain kebutuhan.

Andi Ninnong : Terimakasih atas perhatian tuan tetapi saya belum perlu pertolongan.
Wolhoff : Apakah menurut pendapat Nyonya Indonesia bisa merdeka ?
Ny. Wolhoff (pribumi) : Tetapi kenapa ada orang mau merdeka membunuh orang ?

Andi Ninnong   : Tidak ada satu Bangsa merdeka diberikan begitu saja seperti kue, harus terlebih dahulu melalui perjuangan. Bukankah Belanda berperang dengan Spanyol 80 tahun lamanya karena menuntut kemerdekaannya? Bukankah Amerika berperang dengan Inggris 30 tahun lamanya karena menuntut kemerdekaannya? Dalam sejarah banyak negara negara berperang karena menuntut kemerdekaan.
Wolhoff : Kemauan Kertalegawa memproklamirkan negara Jawa Barat. Tetapi susahnya karena dia minta bantuan pada tentara Kerajaan dan Kertalegawa memiliki tentara 50.000

BACA JUGA :  Kisah Gus Dur Napak Tilas Makam Syechta Tosora

Waktu itu, saya (Andi Ninnong) tidak menyahut, dan hanya tersenyum. Tetapi dalam hati saya tidak percaya ada tentaranya Kertalegawa begitu banyak. Saya tertawa.

Wolhoff : Menurut pendapat saya Indonesia belum bisa merdeka dalam 50 tahun.
Andi Ninnong : Begitu pendapat tuan, tetapi pendapat saya lain.
Wolhoff : Pendirian nyonya saya hargai dan saya hormati. Namun demikian saya bersedia menolong nyonya bila diperlukan.
Andi Ninnong : Terima kasih.

Kami (Andi Ninnong dan Wolhoff serta Ny.Wolhoff) berpisah dalam suasana yang baik dan saling memiliki pengertian masing-masing. Pertemuan itu berakhir dengan baik dengan sama sama mempertahankan prinsip masing masing.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan akhirnya berhasil. Setelah Konferensi Meja Bundar, Belanda keluar dari Indonesia.

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)