Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Kisah Lamaddukkelleng di Perantauan dan Menjadi Sultan Pasir (2)

Kisah Lamaddukkelleng di Perantauan dan Menjadi Sultan Pasir (2)

Buku La MaddukkellengKABARWAJO.com – Setelah memutuskan meninggalkan tanah Wajo akibat pertikaian berdarah di Cenranae, La Maddukkelleng bersama Arung Singkang We Tenri Angka dan pengikutnya kemudian berlayar ke Tanah Malaka (Malaysia Barat), kemudian pindah dan menetap di Kerajaan Pasir, Kalimantan Timur.

Dalam perjalanannya, konon beberapa kali rombongan Lamaddukkelleng bertemu dengan kapal-kapal Belanda dan memerangi mereka. Di sinilah La Maddukkelleng membuktikan salah satu perkataannya, yakni “cappa kawali” atau melalui peperangan.

Ia mengangkat salah satu pengikutnya, To Assa, sebagai panglima dan membangun armada laut serta sesekali mengusik kekuasaan Belanda di wilayah perairan Selat Makassar. Filosofi “cappa laso” (diplomasi melalui pernikahan) ini pun dipertegas La Maddukkelleng dalam perantauannya dengan menikahi puteri Raja Pasir.

Sementara ketiga anaknya dan keturunannya, yakni Petta To Sibengngareng, menikahi puteri Raja Kutai, keturunan Petta To Rawe menikah dengan raja-raja di Berau dan Kutai, serta Petta To Siangka yang turunannya menikah dengan raja-raja Bulungan dan Sulawesi Tengah.

Dalam rombongan La Maddukkelleng tersebut, ikut pula delapan orang bangsawan menengah, yaitu La Mohang Daeng Mangkona, La Pallawa Daeng Marowa, Puanna Dekke, La Siaraje, Daeng Manambung, La Manja Daeng Lebbi, La Sawedi Daeng Sagala, dan La Manrappi Daeng Punggawa.

Kabar mengenai keberadaan La Maddukkelleng di Pasir kemudian sampai juga di Wajo. Akibat tekanan Kerajaan Bone saat itu, banyak warga Wajo yang kemudian memilih merantau menuju Pasir dan menetap di Sungai Muara Kendilo.

BACA JUGA :  Kitab La Galigo dan Islamisasi Masyarakat Bugis

Namun, pemukiman tersebut lambat laun menjadi sesak karena bertambahnya perantau dari Wajo. La Maddukkelleng kemudian berunding dengan pengikutnya. Hasilnya antara lain, diputuskan agar sebagian pengungsi Wajo itu mencari tempat pemukiman baru. Mereka pun memilih Kutai sebagai tanah pemukiman baru.

Ketika rombongan itu sampai ke Tanah Kutai, La Mohang Daeng Mangkona menghadap Raja Kutai, Adji Pangeran Dipati Anom Ing Martadipura atau Marham Pemarangan. Ia memohon agar diizinkan menetap di tanah Kutai. Raja sempat berpikir, dan kemudian mengabulkan permintaan mereka dengan satu syarat: patuh pada perintah raja.

La Mohang setuju dan berjanji apabila diberikan sebidang tanah ia akan mencari kehidupan di tanah Kutai, membangun daerah itu dan patuh pada titah raja. Disaksikan sejumlah pembesar kerajaan, sang raja bertitah “carilah sebidang tanah di wilayah kerajaanku ini di sebuah daerah berdaratan rendah dan di antara dataran rendah itu, terdapat sungai yang arusnya tidak langsung mengarah dari hulu ke hulir, tetapi mengalir dan berputar di antara dataran itu”.

Rombongan La Mohang pun kemudian berlayar sepanjang Sungai Mahakam tanah seperti yang telah ditentukan raja. Setelah beberapa lama berlayar mengitari Tanah Kutai, akhirnya mereka menemukan tanah dataran rendah yang sesuai dengan titah raja.

Di tempat inilah kemudian mereka membangun rumah rakit berada di atas air, dan ketinggian antara rumah yang satu dengan lainnya sama. Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua “sama” derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau “rendah”.

BACA JUGA :  Bugis Street dan Distrik Sengkang, Jejak Perantau Bugis di Singapura

Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaannya menjadi “SAMARINDA”. Tempat itu lalu menjadi pemukiman orang-orang Bugis Wajo. Letaknya tak jauh dari kampung Mangkupalas, kampung tua di Kecamatan Samarinda Seberang bagian tepi Sungai Mahakam, tempat pusaran air itu sekarang menjadi kompleks industri kayu lapis.

Menurut cerita setempat, La Mohang Daeng Mangkona pengikut La Maddukkelleng itulah yang dianggap berjasa, mengembangkan Kampung Mangkupalas. Sebuah kampung tua yang kemudian berkembang menjadi Samarinda Seberang.

Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir (1726-1736), datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taba menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali karena Wajo dalam ancaman Bone, tapi Wajo sudah siap dengan pasukan dan peralatan.

La Maddukkelleng bersedia dan memutuskan kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya meskipun harus menghadapi banyak pertempuran. (bersambung)

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)