Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Kitab La Galigo dan Islamisasi Masyarakat Bugis

Kitab La Galigo dan Islamisasi Masyarakat Bugis

galigo
La Galigo, salah satu karya sastra teks Bugis kuno berbentuk epik yang ditulis di abad ke-13 yang saat ini menjadi kitab sakral Bugis. (Wikimedia Commons)

KABARWAJO.com – Sebelum agama Islam tersebar luas, masyarakat Bugis telah menganut kepercayaan kuno. Dari kitab La Galigo, salah satu karya sastra klasik terpanjang di dunia, terungkap bahwa masyarakat Bugis pra-Islam sudah menganut konsep kepercayaan Dewata Seuwwae (Tuhan yang Tunggal).

La Galigo mengisahkan, masyarakat Bugis saat itu juga mengenal dewa-dewa yang berdiam di dunia atas (Botting Langiq) dan dunia bawah (Buriq Liu).

“Sisa-sisa kepercayaan terhadap Dewata Seuwwae ini dapat dilihat pada masyarakat To Lotang di Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang,” ungkap Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanudin Andi Muhammad Akhmar, dalam ujian terbuka promosi doktornya dengan judul “Islamisasi Bugis” di Fakultas Ilmu Budaya UGM, beberapa waktu lalu, dilansir National Geographic.

Seiring masuknya Islam melalui penyebaran dari Asia Barat, imbuh Akhmar, konsep kepercayaan Dewata Seuwae ini berubah menjadi konsep Allah Subhanahu Wa Taala, melalui ajaran-ajaran tauhid.

BACA JUGA :  Dipentaskan 3.058 Penari, Tari Pattennung Pecahkan Rekor MURI

“Sastra La Galigo tidak hanya dinikmati sebagai sastra tapi juga sebagai sarana Islamisasi bagi orang Bugis,” tambahnya.

Menurut Akhmar, islamisasi yang memanfaatkan sastra ini dilakukan tanpa menyingkirkan unsur-unsur lama orang Bugis. Namun, menyesuaikan unsur Islam dengan sistem kebahasaan Bugis yang menjadikan Islam dapat diterima dengan baik.

Pengucapan doa-doa dan ayat Al-quran pun juga disesuaikan pengucapan bahasa Bugis. Dalam praktik ibadah seperti mandi, berwudhu, shalat, dan zikir dimasukkan sebagai bagian mantra Bugis.

“Strategi yang bersifat akomodatif ini menyebabkan Islam mudah diterima dengan warna tersendiri di kalangan orang Bugis,” jelasnya.

BACA JUGA :  Jembatan Cellae dan Tari Pajaga, Sisi Lain Heroisme Masyarakat Gilireng

Hingga kini, naskah La Galigo diyakini masyarakat Bugis sebagai kitab sakral yang tidak boleh dibaca tanpa didahului sebuah ritual tertentu seperti menyembelih sapi. Umumnya naskahnya dibaca dengan cara dilagukan pada saat akan membangun rumah, musim tanam, pesta perkawinan, atau doa tolak bencana.

(Olivia LP/NGI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)