Home > #AyoKeWajo > Makna Filosofis di Balik Rumah Panggung Suku Bugis

Makna Filosofis di Balik Rumah Panggung Suku Bugis

Saoraja La Tenribali yang terletak di Kawasan Rumah Adat Atakkae, Kabupaten Wajo.
Saoraja La Tenribali yang terletak di Kawasan Rumah Adat Atakkae, Kabupaten Wajo.

KABARWAJO.com – Rumah panggung suku Bugis umumnya berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Atap rumah berbentuk prisma. Uniknya, konstruksi bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Bagi orang Bugis, rumah lebih dari sekadar tempat berteduh atau objek materil yang indah dan menyenangkan. Namun mereka memandang rumah adalah ruang sakral di mana orang lahir, kawin dan meninggal dan di tempat ini pula kegiatan-kegiatan sosial dan ritual tersebut diadakan.

Dari segi konstruksi bangunan, rumah panggung orang Bugis tidak hanya memberi representatif terhadap karya seni manusia, tetapi juga membawa simbol-simbol kehidupan kosmologi manusia Bugis. Bentuk rumah, susunan, ruang dalam rumah tidak hanya fungsional tapi juga memiliki makna simbolis dari setiap ruang dan susunan dari rumah tersebut.

Dikutip dari Jurnalite, berikut simbol-simbol konstruksi rumah panggung yang diyakini masyarakat Bugis.

Sulapa Eppa (Empat Sisi)

Dalam budaya Bugis, simbol Empat Sisi punya makna filosofis tersendiri. Konsep empat sisi ini menurut pandangan hidup masyarakat Bugis pada zaman dahulu yaitu berkenaan bagaimana memahami alam semesta secara universal.

Dalam falsafah dan pandangan hidup mereka terdapat istilah “sulapa’ eppa’”, yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia Menurut mereka, segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memiliki sulapa’ eppa’.

BACA JUGA :  Kembangkan Pariwisata, Disbudpar Sulsel Tantang Dinas Pariwisata Wajo Lebih Kreatif

Demikian pula pandangan mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakan bola genne’ atau rumah sempurna jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat kesempurnaan.

Tiga Tingkatan Alam (Makrokosmos)

Rumah bagi orang Bugis tidak sekedar tempat tinggal atau obyek materiil yang indah dan menyenangkan, namun pendirian rumah tradisional Bugis lebih diarahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara kosmis. Oleh karena itu, konstruksi rumah tradisional Bugis sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos.

Menurut pandangan hidup masyarakat Bugis zaman dahulu, simbol alam raya (makrokosmos) tersusun atas tiga tingkatan, yaitu alam atas (botting langi’), alam tengah (lino), dan alam bawah (uriliyu).

Alam atas adalah tempat para dewa yang dipimpin oleh satu dewa tertinggi bernama Dewata SeuwaE (Dewa Tunggal). Alam tengah adalah bumi yang dihuni oleh para wakil dewa tertinggi untuk mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi, serta mengatur jalannya tata tertib kosmos. Alam bawah adalah tempat yang paling dalam yaitu berada di bawah air.

Berdasarkan pandangan hidup tersebut, maka konstruksi rumah tradisional Bugis harus terdiri tiga tingkatan, yaitu rakkeang (alam atas), ale bola (alam tengah), awa bola (alam bawah), di mana keseluruhan bagian tersebut masing-masing memiliki fungsi.

BACA JUGA :  Sekelumit Cerita tentang Komunitas Tolotang

Saoraja dan Bola

Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol khusus. Berdasarkan pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal dengan istilah Saoraja (Sallasa) dan Bola.

Saoraja berarti rumah besar, yakni rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan bola berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa.

Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran rumah dan status sosial penghuninya.

Pada umumnya, Saoraja lebih besar dan luas daripada Bola yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. Saoraja memiliki 40-48 tiang, sedangkan Bola hanya memiliki 20-30 tiang.

Timpak Laja’

Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup bubungan atap rumah yang disebut dengan timpak laja.

Bangunan Saoraja memiliki timpak laja yang bertingkat-tingkat yaitu antara 3 hingga 5 tingkat, sedangkan timpak laja pada bangunan Bola tidak bertingkat alias polos. Jadi semakin banyak jumlah tingkat timpak laja sebuah Saoraja, semakin tinggi pula status sosial penghuninya.

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)