Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Menjejaki Sejarah Villa Juliana di Soppeng

Menjejaki Sejarah Villa Juliana di Soppeng

Villa Juliana di Watansoppeng, Kabupaten Soppeng.
Villa Juliana di Watansoppeng, Kabupaten Soppeng.

KABARWAJO.com – Villa Juliana merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Bangunan yang mulai dibangun pada tahun 1905 dan selesai pada tahun 1907 atas prakarsa C. A. Croesen selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi ini menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kabupaten Soppeng.

Terletak di salah satu sudut Kota Watansoppeng, bangunan yang kini berusia satu abad lebih yang belakangan difungsikan sebagai Museum Latemmala tersebut tidaklah terlalu sulit untuk diakses.

Apalagi, dengan posisinya di ketinggian membuat bangunan yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Juliana, putri Ratu Wilhelmina yang pernah berkuasa di Belanda ini menjadi sangat menonjol.

Juru Pelestari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Villa Juliana, Lamadi, kepada penulis mengatakan keberadaan Villa Juliana tersebut memang awalnya diperuntukkan sebagai penginapan bagi Ratu Juliana yang direncanakan berkunjung ke Soppeng.

Hanya saja, sengitnya peperangan antara Belanda dengan Kerajaan Gowa pada masa itu serta alasan faktor keamanan, kunjungan putri penguasa Belanda, Ratu Wilhelmina ini dibatalkan.

“Awalnya dibangun untuk menyambut kedatangan Ratu Juliana. Namun batal karena sengitnya peperangan antara pasukan Gowa dengan pasukan Belanda sekitar tahun 1900-an,” ujar Lamadi.

Bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur Eropa dan Bugis serta disebut-sebut memiliki ‘kembaran’ di Belanda ini mulai dibangun pada tahun 1905 atas prakarsa Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi dan baru selesai dibangun pada tahun 1907.

BACA JUGA :  Mengurai Jejak Sejarah Bola Soba di Bone

Selanjutnya, selain dijadikan sebagai tempat peristirahatan Pemerintah Hindia Belanda, Villa Juliana juga difungsikan sebagai pusat perkantoran dan pengawasan terhadap aktivitas raja dan masyarakat Kabupaten Soppeng.

“Karena terletak pada ketinggian, selain berfungsi sebagai perkantoran dan tempat peristirahatan Pemerintah Hindia Belanda, juga memudahkan mereka untuk mengawasi aktivitas masyarakat pada waktu itu serta gerak-gerik di istana raja. Apalagi, pas di bagian bawah depan Villa memang terletak istana raja,” imbuh Lamadi yang sudah bertugas sebagai juru pelestari Villa Juliana sejak 23 Maret 2008.

Selanjutnya, kata dia, Villa Juliana ini kemudian dijadikan Mess Pemda pada tahun 1992, diambil alih Dinas Budaya dan Pariwisata sebagai salah satu cagar budaya pada tahun 2005 hingga kemudian menjadi Museum Latemmamala pada 23 Maret 2008 bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Soppeng.

Untuk renovasi, ungkap Lamadi, hanya dilakukan pada bagian atap yang sudah tiga kali mengalami perubahan.

“Pernah menggunakan atap seng dan genteng, tetapi oleh bagian yang berwenang di Belanda meminta atap diganti kembali menggunakan sirap sesuai dengan aslinya. Selain itu catnya pun tetap dipertahankan dengan dominasi warna putih strip hijau di beberapa bagian,” ujar Lamadi.

BACA JUGA :  JEJAK SEJARAH: Saat Andi Ninnong Menolak Berdamai dengan Belanda

Menjadi Museum Latemmamala

Selain menjadi salah satu cagar budaya, Villa Juliana juga berfungsi sebagai museum. Di lantai satu, terdapat beberapa koleksi foto lama seputar sejarah Kabupaten Soppeng, fosil-fosil yang ditemukan peneliti di kawasan Calio, buku-buku seputar Kabupaten Soppeng serta peralatan-peralatan kuno yang digunakan oleh masyarakat tempo dulu yang masih tersimpan rapi.

Sementara di lantai dua, terdapat beberapa koleksi benda pustaka peninggalan Kerajaan Soppeng serta keramik asal China sebagai bukti adanya kerjasama antara Kerajaan Soppeng dengan para pedagang China.

“Dari ruang fosil, kita dapat melihat adanya fosil gajah yang ditemukan pada tahun 1993 di Tanjonge, rahang gajah purba, fosil kura-kura raksasa yang juga ditemukan di kawasan sungai di daerah Calio, tengkorak babi rusa serta fragmen gigi Anoa yang semuanya ditemukan peneliti di wilayah Kabupaten Soppeng,” ungkap Lamadi.

Villa Juliana umumnya banyak dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa sebagai tugas penelitian dan sejarah. Di samping itu, juga sering dikunjungi oleh peneliti dari luar negeri, seperti Belanda, Austria dan negara lainnya.

(Adi Pallawalino/Kompasiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)