Saat Sisi Lain “Calalai’ Dikupas di Melbourne Australia

By on 16/09/2017

FMIA kupas Film Calalai

MELBOURNE, KABARWAJO.com – Calalai, di kalangan masyarakat Bugis, merupakan sebutan bagi seseorang yang terlahir sebagai perempuan tetapi mengambil peran dan fungsi sebagai laki-laki. Kebalikan dari calabai, yakni laki-laki yang memiliki peran dan penampilan seperti perempuan.

Keberadaan dua gender dalam masyarakat Bugis ini pun mendapat perhatian hingga di Melbourne, Australia. Bertempat di Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) RI, film berjudul “Calalai-In Betweens” yang disutradarai oleh Kiki Febriyanti dengan produser Ursula Tumiwa dan RR Agustine mendapat atensi tersendiri.

Film dokumenter berdurasi kurang dari satu jam ini menceritakan kisah para bissu, tokoh spiritual yang kerap memimpin upacara dan ritual adat dalam masyarakat Bugis.

Bissu adalah satu dari lima gender yang ada di dalam masyarakat Bugis. Selain itu ada Calabai atau laki-laki yang memiliki peran dan penampilan seperti perempuan. Ada Calalai, yang lahir perempuan tetapi mengambil peran dan fungsi sebagai laki-laki.

“Kami mau menyampaikan jika gender itu bersifat fluid. Kadang kita berperan sebagai pria, kadang perempuan, sehingga tidak ekslusif hanya memainkan satu peran gender saja, tetapi bisa jadi gabungan keduanya,” kata Ursula kepada Erwin Renaldi dari ABC Melbourne.

BACA JUGA :  Kemenkominfo Ingatkan Penyebaran Berita Hoaks Jelang Tahun Politik

Menurutnya, selama ini masyarakat modern mengkotak-kotakan pria dan wanita, sehingga peranannya pun menjadi seolah terbatas.

“Pria misalnya yang dianggap hanya berperan mencari uang, sementara perempuan memasak, mencuci, dan mengerjakan tugas domestik.”

“Padahal ada juga perempuan yang bersifat maskulin dan mengambil keputusan layaknya pria, dan sebaliknya.”

Benjamin Hegarty, yang akrab dipanggil Ben adalah dosen Gender Studies di University of Melbourne dan Australian National University (ANU). Kini ia pun sedang menyelesaikan program doktoralnya yang meneliti pembahasan transgender di Indonesia.

“Film ini mengingatkan saya soal nilai-nilai dalam menjelaskan gender dalam pandangan budaya lain,” ujar Benjamin yang juga diundang menjadi pembicara dalam pemutaran film.

“Ini adalah soal pengertian gender dalam praktiknya, yang tentu berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui.”

“Lewat film ini, kita bisa tahu siapa pria dan siapa perempuan yang berbeda dalam konteks budaya.”

BACA JUGA :  Kisah Lamaddukkelleng di Perantauan dan Menjadi Sultan Pasir (2)

Sementara itu, pembicara lainnya adalah Syahrir Wahab, keturunan Bugis yang mengaku pernah memiliki beberapa teman yang akhirnya menjadi Calalai atau Calabai.

“Masyarakat saat itu bisa menerima para Calalai, Calabai, dan Bissu. Saya rasa perdebatan itu baru terasa di jaman sekarang, mereka juga minta untuk dihargai, diapresiasi, karena masyarakat dulu lebih menerima,” ujar Syahrir, yang juga suami dari Dewi Wahab, Konjen RI di Melbourne.

Ia menjelaskan jika para Bissu kini semakin sedikit jumlahnya, dan hanya melakukan ritual atau upacara adat tertentu. Acara pemutaran dan pembahasan film Calalai-In Betweens ini digelar oleh Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA).

(adi) 

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)
Read previous post:
Sembunyikan Sapi Curian di Keera, Komplotan Curnak asal Luwu Dibekuk
Rem Blong, Truk Kontainer ‘Geruduk’ Rumah Warga di Tanasitolo

Ungkapan Belasungkawa NH atas Meninggalnya Ayah Politisi Golkar asal Wajo

12 Partai Ini Sah Jadi Peserta Pemilu 2019

Close