Home > #AyoKeWajo > Sejarah & Budaya > Sekelumit Cerita tentang Komunitas Tolotang

Sekelumit Cerita tentang Komunitas Tolotang

Penganut keyakinan TOlotang merayakan hari besar Parinyameng di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap (23/1/2008). (Foto: callangku.blogspot.co.id)
Penganut keyakinan Tolotang merayakan hari besar Parinyameng di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap (23/1/2008). (Foto: callangku.blogspot.co.id)

Catatan: Nasaruddin Umar

KOMUNITAS Tolotang merupakan sebagian koloni masyarakat masa Kerajaan Wajo yang masih eksis sampai sekarang. Komunitas Tolotang saat ini sebagian besar berdiam di Amparita, Kabupaten Sidrap dan di Buloe, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo.

Dari akar katanya, Tolotang berasal dari dua kata, to yang berarti orang dan lotang yang berarti selatan. Mereka menyebut dirinya sebagai to lotang, karena mendiami wilayah sebelah selatan pasar Sidenreng di Amparita.

Boleh jadi, penyebutan tolotang ini untuk penanda identitas bahwa mereka merupakan bagian terpisah dari Kerajaan Wajo saat itu, yang menjadi daerah asal mereka. Ya, berdasarkan sejarah, tolotang sebelumnya mendiami wilayah Kerajaan Wajo.

Pasca agama Islam masuk dan diakui sebagai agama kerajaan pada abad ke-17 di masa kepemimpinan Arung Matoa Wajo La Sangkuru, sebagian masyarakat mematuhi maklumat Raja dan ikut memeluk agama Islam. Sebagian lagi menolak, khususnya warga yang mendiami wilayah Wani.

BACA JUGA :  Danau Tempe Awalnya Bernama Tamparang Karadja

Hal ini yang kemudian membuat mereka meninggalkan wilayah Kerajaan Wajo dan mencari suaka ke daerah lain. Mereka kemudian bergerak ke arah selatan di wilayah Sidenreng dan memilih bermukim di Amparita.

Awalnya, masyarakat Tolotang sebagian besar masih menggunakan KTP Islam. Namun belakangan mereka mendaftarkan diri sebagai salah satu sekte agama Hindu. Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, No.2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966.

Surat Keputusan tersebut disempurnakan kemudian dengan Surat Keputusan No. 6 Tahun 66, tertanggal 16 Desember 1966.

Inti agama atau kepercayaan Tolotang antara lain bertumpu pada lima keyakinan, yaitu: 1) Percaya adanya Dewata SeuwaE (Tuhan YME), 2) Percaya adanya hari kiamat, 3) Percaya adanya hari kemudian, 4) Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan, 5)Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci penyembahan To Lotang kepada Dewata SeuwaE berupa penyembahan kepada batu-batuan, sumur dan kuburan leluhur.

BACA JUGA :  Bugis Street dan Distrik Sengkang, Jejak Perantau Bugis di Singapura

Keunikan kepercayaan ini juga dapat dilihat dari berbagai bentuk upacara ritualnya yang berbeda dengan ajaran Islam. Di antaranya pada puncak upacara ritual mereka berupa ziarah ke Makam I Paqbere di Desa Perrinyameng, Kelurahan Amparita, Kabupaten Sidrap.

Para penganut kepercayaan Tolotang berkumpul dan duduk di atas rumput di bawah rindangnya pepohonan dengan penuh ketenangan dan rasa khikmat mereka mengikuti upacara ritual itu yang dipimpin oleh para Uwaq, sebuah istilah yang lazim diberikan kepada seorang atau sosok figur yang berwibawa.

——-

(Penulis merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal, Wakil Menteri Agama Kementerian Agama Republik Indonesia 2011 – 2014, Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an, pernah mengenyam pendidikan di Pesantren As’adiyah Sengkang dari 1971-1976)

error: Maaf, tidak bisa di-copy paste! :)